Al-Baqarah (2) ayat 10
فِى قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ ٱللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌۢ بِمَا كَانُوا۟ يَكْذِبُونَ
10. Dalam hati mereka terdapat penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu; dan mereka mendapat azab yang pedih, karena mereka berdusta.
Dalam hati mereka terdapat penyakit, Yakni keyakinan mereka terdahap kebenaran Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam lemah dan mereka masih ragu-ragu. Kelemahan dan keragu-raguan keyakinan itu menimbulkan kedengkian, iri-hati dan dendam terhadap Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, agama dan orang-orang Islam, lalu tidak diobati sehingga Allah menambah lagi penyakit terebut.
Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud dan beberapa orang sahabat menyatakan, bahwa penyakit di ayat ini adalah ‘Syak’ (keraguan). Pernyataan ini dikatakan juga oleh Mujahid, Ikrimah, Al Hasan Al Bashri, Abul ‘Aliyah, Ar Rabii’ bin Anas dan Qatadah.
Penyakit yang menimpa hati ada dua; penyakit syubhat dan penyakit syahwat. Kekafiran, kemunafikan, keraguan dan bid'ah merupakan penyakit syubhat, sedangkan kecintaan terhadap perbuatan keji dan maksiat merupakan penyakit syahwat.
Di antara obat penyakit syak atau ragu-ragu adalah:
Obat pertama, memohon hidayah kepada Allah Azza wa Jalla, dan Dia tidak akan menyia-nyiakan orang yang memohon kepada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (Qs. Al Mu’min: 60)
Obat kedua, bersikap adil, obyektif atau inshaf dan membuang semua sikap berat sebelah yang membuatnya tidak bersikap obyektif. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, Katakanlah, "Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu satu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan adil) berdua-dua atau sendirisendiri; kemudian kamu berfikir.” (Qs. Saba’: 46)
Obat ketiga, mujahadah (usaha dan keinginan mencari kebenaran). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Orang-orang yang bersungguh-sunguh untuk (mencari keridhaan) Kami, Kami benar-benar akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat baik.” (Qs. Al Ankabut: 69)
Obat keempat, mengfungsikan anggota tubuh pemberian Allah yang dapat digunakan untuk membantu meraih hidayah dan kebenaran, seperti akal, pendengaran, dan penglihatan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedangkan dia menyaksikannya (dengan matanya).” (Qs. Qaaf: 37)
Obat kelimat, dengan melihat kebenaran Islam. Lihat kebenaran konsep ketuhanan dalam Islam yang sejalan dengan akal dan fitrah manusia, seperti dalam surat Al Ikhlas 1-4 ini,
Katakanlah, "Dia-lah Allah, yang Maha Esa.--Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.--Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan,--Dan tidak ada seorang pun yang setara
dengan Dia." (QS. Al Ikhlas: 1-4)
Demikian pula lihat kebenaran pernyataan Allah, “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Qs. Al Hijr: 9)
Ternyata dari sejak diturunkan hingga sekarang dan seterusnya, Al Qur’an tetap terpelihara, tidak terjadi penambahan, pengurangan, dan perubahan seperti halnya yang terjadi pada kitab-kitab sebelumnya.
Lihat pula kebenaran berita Al Qur’an, misalnya tentang dikalahkannya banga Romawi oleh bangsa Persia (sebagaimana dalam QS. Ar Ruum: 1-5), kemudian Al Qur’an menyatakan, bahwa setelah dikalahkan itu, maka bangsa Romawi akan kembali mengalahkan banga Persia, dan ternyata terjadi sesuai dengan yang disampaikan oleh Al Qur’an.
Faedah:
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Hati ketika sakit, maka lebih suka hal yang membahayakannya dan tidak suka hal yang bermanfaat baginya."
(Jami'ul Masail 1/133)
lalu Allah menambah penyakitnya itu; dan mereka mendapat azab yang pedih, karena mereka berdusta. Firman-Nya, “Yakdzibuun” (artinya: berdusta) boleh dibaca “Yukadzdzibuun” (artinya: mendustakan), yakni karena keadaan mereka adalah sebagai pendusta, demikian juga karena mereka sebagai orang-orang yang mendustakan yang gaib.
Wallahu 'alam
Sumber EBook Tafsir Al Qur'an Minnatur Rahman (Pelengkap Tafsir Hidayatul Insan)