Tadabbur Qur'an Surat Al Fatihah Ayat 5

Li Yaddabbaru Ayatih / Markaz Tadabbur di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil, professor fakultas syari'ah Universitas Qashim - Saudi Arabia

 مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (4)

Yang Menguasai hari pembalasan.

1. Muhammad bin 'Auf al-Hamshy berkata : "suatu ketika aku melihat Ahmad bin al-Hawari melaksanakan shalat Isya', dia mengawali shalatnya dengan { الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ } sampai ketika ia membaca { إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ } , aku kemudian keluar menglilingi pembatas, kemudian aku kembali dan ternyata ia masih membaca ayat ini sampai aku tertidur, malam pun lewat sampai aku terbangun, dan ia masih membaca : { إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ } sampai waktu subuh tiba".

2. Ibnu mengatakan : "Aku mengamati bahwa doa yang paling bermanfaat bagi seorang hamba adalah ketika ia memohon bantuan atas keridhoan Allah ta'ala, kemudian aku melihatnya ada pada surah al-Fatihah : { إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ }.

3. Tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat untuk hati seorang hamba daripada tahuid dan ikhlas dalam beragama untuk Allah, dan tidak ada sesuatu yang lebih berbahaya baginya daripada kesyirikan, maka ketika seorang hamba menemukan hakikat keikhlasan yang itu adalah hakikat daripada : { إيَّاكَ نَعْبُدُ } bersama dengannya hakikat tawakkal yang merupakan hakikat dari : { وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ } sesungguhnya ia telah menemukan sesuatu yang derajatnya lebih tinggi diatas apapun yang belum ditemukan oleh orang selainnya.

4. Diantara manusia banyak yang menyandingkan dua sifat buruk ini dalam diri mereka yakni riya' dan 'ujub; ketika ia berbuat riya' maka ia telah mensekutukan atau menyandingkan sang pencipta dengan selainnya, dan ketika ia berbuat 'ujub maka ia telah menyandingkan sang pencipta dengan dirinya yang lemah, dan keduanya adalah sifat atau keadaan orang-orang yang menyombongkan diri, karena orang yang berbuat riya' tidak mngamalkan firman Allah : { إيَّاكَ نَعْبُدُ } sedangkan orang yang berbuat 'ujub tidak merealisasikan firman Allah : { وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ }.

5. Dalam ayat kata ibadah didahulukan sebelum isiti'anah, hal itu dikarenakan ibadah adalah hak Allah atas hamba-Nya, adapun isti'anah adalah keinginan setiap hamba, dan tabi'at kehidupan adalah seorang hamba mengutamakan apa yang menjadi penyebab diperolehnya ridho tuhannya sebelum memohon kepada-Nya sesuatu, dan itu merupakan sikap rendah diri dihadapan Allah, karena ibadah adalah sebab terkabulnya permintaan seorang hamba.

6. Hati manusia dihadapkan dengan dua jenis penyakit yang berbahaya, jika ia tidak mampu mencegah keduanya maka penyakit itu akan menghantarkannya kepada kebinasaan yang pasti, yaitu : riya' dan sombong, dan penawar yang terbaik untuk riya' adalah dengan : { إيَّاكَ نَعْبُدُ }, sedangkan penawar untuk kesombongan adalah dengan : { وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ }.

Sebagaimana yang juga disebutkan oleh Ibnu al-Qoyyim yang diriwayatkan dari gurunya Ibnu Taimiyyah rahimahullah, bahwasanya { إيَّاكَ نَعْبُدُ } menolak sifat riya', dan { وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ } menolak kesombongan dari hati manusia.

7. Seorang hamba butuh memohon pertolongan kepada Allah dalam mengerjakan perintah dan menghindari segala larangan dan sabar atas taqdir yang ditetapkan atasnya, baik ketika ia didunia dan ketika kematian menghampirinya serta apa yang akan terjadi padanya di alam barzakh dan ketika kiamat itu terjadi, dan tidak siapapun yang mampu memberinya pertolongan atas itu semua kecuali Allah, maka barang siapa yang dapat merealisasikan perkara isti'anah ini hanya kepada-Nya, niscaya Allah akan menolongnya.

8. Segala upaya yang membatalkan jernihnya keikhlasan seseorang; tidak lain adalah upaya yang membatalkan perjanjian antara hamba dengan Allah, dan merupakan pengkhianatan terhadap-Nya, bagaimana tidak ? ketika kamu memutuskan kesaksian atas dirimu di pagi dan sore hari dengan : { إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ } kemudian kamu berpaling dibelakangan-Nya kepada selain-Nya ! maka siapakah yang dapat melindungimu setelah itu dari azab Allah ?

9. Seorang pentadabbur berkata : "begitu banyak aku shalat dibelakang syaikh Abdurrahman ad-Dausary, dan aku tidak mengetahui berapa kali dia membaca surah al-Fatihah tanpa menangis, khususunya ketika ia membaca : { إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ } .

10. Seorang hamba tidak akan mampu mencapai kedudukan taufiq dan kebajikan hanya dengan hasrat, tetapi harus dengan meminta kepada siapa yang mampu mengahantarkannya kepada kedudukan itu, dan selalu merasa bahwa dia perlu dengan pertolongan itu, tetapi permohonann itu harus dengan hati dan lisan yang senantiasa didukung oleh segala warna ubudiyah qolbiyah dan badaniyah : { إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ }.

---------------------------------

Referensi : https://tafsirweb.com/56-surat-al-fatihah-ayat-5.html