Para ulama mengatakan bahwa tanda akhlak mulia itu ada 10 (At-Tanwir Syarh Al-Jami’ Ash-Shaghir 5/535)
1. Sedikit Berselisih
Ada yang mengatakan bahwa perselisihan itu adalah rahmat. Tetapi, sebenarnya karena persatuanlah rahmat itu datang bukan karena perselisihan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala :
(وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُواْ)
“berpegang teguhlah kepada tali Allah dan janganlah berpecah-belah” (QS. Al Imran: 103).
Allah Ta’ala juga berfirman:
(وَلاَ تَكُونُواْ كَالَّذِينَ تَفَرَّقُواْ وَاخْتَلَفُواْ مِن بَعْدِ مَا جَاءهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُوْلَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ)
“dan janganlah kalian seperti orang-orang yang berpecah-belah dan berselisih setelah datang kepada mereka penjelasan-penjelasan. Dan bagi mereka itu adzab yang pedih” (QS. Al Imran: 105).
Allah Jalla wa ‘Alaa juga berfirman:
(وَلاَ يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ إِلاَّ مَن رَّحِمَ رَبُّكَ)
“dan mereka senantiasa berselisih kecuali orang yang dirahmati Allah” (QS. Huud: 118).
Dengan demikian, ternyata Allah merahmati orang-orang yang tidak saling berselisih.
2. Bersikap Adil
Akhlak mulia selanjutnya adalah bersikap adil. Sikap ini sangat dijunjung tinggi dalam Islam, dan sangat dicintai oleh Allah Ta’ala, sebagaimana firman Allah Ta’ala berikut ini.
وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ [الحجرات
”Dan berbuat adillah, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat adil.” (QS. al-Hujurat/49: 9)
لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ
“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka al-Kitab dan mizan (neraca, keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.” (QS. al-Hadid/57: 25)
3. Meninggalkan Sikap Mencari-Cari Kesalahan Orang Lain
Akhlak mulia selanjutnya adalah meninggalkan tajassus atau sikap mencari-cari kesalahan orang lain. Allah Ta’ala melarang tajassus sebagaimana firman-Nya berikut:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain” (Al-Hujurat : 12)
إِيَّا كُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ وَلاَ تَحَسَّسُوا وَلاَ تَجَسَّسُوا وَلاَ تَحَاسَدُوا وَلاَتَدَابَرُوا وَلاَتَبَاغَضُوا وَكُوْنُواعِبَادَاللَّهِ إحْوَانًا
“Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (Al-Bukhari hadis no. 6064 dan Muslim hadis no. 2563)
4. Berusaha Memperbaiki Keburukan-Keburukan yang Nampak
Akhlak mulia selanjutnya adalah memperbaiki keburukan atau bertaubat sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu
“Barang siapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari tempat terbenamnya, maka Allah akan menerima taubatnya.” (Imam Muslim No. 2703)
5. Mencari Udzur bagi Orang yang Jatuh pada Kesalahan
Ibnu Hibbaan rahimahullah berkata :
الإعتذار يُذهب الهموم، ويُجلي الأحزان، ويَدفع الحقد، ويُذهب الصدّ..
فلو لم يكن في اعتذار المرء إلى أخيه خصلة تحمد إلا نفى التعجب عن النفس في الحال لكان الواجب على العاقل أن لا يفارقه الاعتذار عند كل زلة
“Memberi udzur (kepada orang lain) menghilangkan kegelisahan, melenyapkan kesedihan, menolak kedengkian, menyirnakan penghalang dari saudara…
Seandainya sikap memberi udzur kepada saudara (yang bersalah) hanya memiliki satu keutamaan yang terpuji yaitu menghilangkan sikap ujub dari jiwa seketika itu juga, maka wajjb bagi orang yang berakal untuk tidak meninggalkan sikap memberi udzur kepada saudara pada setiap kekeliruan…
(Roudhotul ‘Uqolaa’ hal 186)
6. Bersabar Menghadapi Gangguan
ما من مسلم يصيبه أذى من مرض فما سواه إلا پو , گماط الشكر رها (رواه بخاری ومسلم)
Artinya: “Seorang muslim yang tertimpa suatu gangguan berupa penyakit atau yang lainnya pasti Allah akan menggugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya.” (HR Imam Bukhari dan Muslim).
7. Introspeksi dengan Mencela Diri Sendiri (Musibah Akibat Ulah Sendiri)
Al-Hasan Al Bashri berkata, “Seorang mukmin senantiasa mengoreksi dirinya karena Allah, hisab pada hari kiamat terasa ringan bagi kaum yang telah melakukan muhasabah dirinya di dunia. Sebaliknya, hisab pada hari kiamat terasa berat bagi orang yang tak pernah melakukan muhasabah” (Ihya Ulumuddin IV:404)
8. Fokus dan Sibuk Mengurus Aib-Aib Sendiri tanpa Mengurusi Aib Orang Lain
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
يبصر أحدكم القذاة في أعين أخيه، وينسى الجذل- أو الجذع – في عين نفسه
“Salah seorang dari kalian dapat melihat kotoran kecil di mata saudaranya tetapi dia lupa akan kayu besar yang ada di matanya.” [Semut di seberang lautan nampak, gajah di pelupuk mata tak nampak, pen].
9. Berwajah Ceria
Akhlak mulia ini berdasarkan hadis berikut:
عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلِيقٍ
Artinya: “Dari sahabat Abu Dzar ra, ia berkata, Rasulullah saw bersabda, ‘Jangan kamu meremehkan suatu perbuatan baik sekecil apapun meski kamu hanya bertatap muka dengan saudaramu dengan wajah cerah dan ceria,’” (HR Muslim).
10. Lembut Perkataannya
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ الله لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظّاً غَلِيظَ القلب لاَنْفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ
“ Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imron: 159).
Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala memudahkan kita untuk memperbaiki akhlak kita, allahumma aamiin ya robbal ‘aalamiin.
Sumber : https://wiz.or.id/akhlak-mulia/