Keutamaan Menghafal dan Menyampaikan Hadits Nabi

Imam Tirmidzi (2658) telah meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مَقَالَتِي فَوَعَاهَا وَحَفِظَهَا وَبَلَّغَهَا فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ 

Allah akan memberikan nadhrah kepada seseorang yang mendengar perkataanku, dia memahaminya, menghafalnya dan menyampaikannya, bisa jadi orang yang membawa fiqih menyampaikan kepada orang yang lebih faqih darinya.

Hadits ini menunjukkan sebuah doa atau kabar dari Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bahwa akan mendapatkan nadhrah bagi mereka yang menghafal hadits dan menyampaikannya sebagaimana yang telah dia hafal.

Adapun makna dari “Nadhrah” adalah keindahan dan cemerlang.

Maksudnya adalah Allah akan melimpahkan kebahagiaan, kesenangan di dunia khusus kepadanya  dan akan memberikan kenikmatan di akhirat, sehingga akan tampak pada dirinya indahnya nikmat dan kemudahan hidup.

Sebagian menganggap redaksi hadits itu sebagai bentuk kabar, Allah menjadikannya sebagai orang yang mendapatkan keindahan, dan sebagian yang menyatakan sebagai bentuk doa agar mendapatkan keindahan, bentuk kabar lebih utama dari pada sebagai bentuk doa”. (Mirqaatul Mashaabih: 1/306 karya Al Qaari)