Ringkasan Halaqah 1-5 ( Silsilah Ilmiyah 01 Belajar Tauhid )

01. Mengapa Harus Mempelajari Tauhid? 

Tujuan Allāh Ta'ala menciptakan manusia dan jin adalah hanya untuk beribadah kepada Allāh Ta'ala saja, yaitu mentauhidkanNya

Allāh Ta'ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku. (Adz-Dzāriyāt: 56)

dan Allāh Ta'ala mengutus para Rasul dengan tujuan untuk mengajak mereka kepada Tauhid. Allāh ﷻ berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ

Dan sungguh-sungguh, telah Kami utus kepada setiap umat seorang Rasul yang berkata kepada kaumnya “Sembahlah Allāh dan jauhilah thaghut.” (An-Naḥl: 36)

Makna thaghut : adalah segala sesembahan selain Allāh Ta'ala

Maka seorang Muslim yang tidak memahami Tauhid, sebenarnya dia tidak memahami agamanya meskipun dia mempelajari banyak ilmu agama.


02. Tauhid Syarat Mutlak Masuk Surga

Orang yang bertauhid pasti akan masuk Surga meskipun mungkin sebelumnya dia diadzab terlebih dahulu di dalam Neraka karena dosa-dosa yang pernah dia lakukan di dunia. 

Nabi shalallahu alaihi wasalam bersabda:

مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ الله وَرَسُولُهُ، وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ وَالْجَنَّة حَقٌّ وَالنَّار حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللهُ الجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ

“Barang siapa yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhaq disembah kecuali Allāh, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya, dan bahwasanya ʿĪsā adalah hamba Allāh dan Rasul-Nya, dan kalimat-Nya yang Dia tiupkan kepada Maryam dan ruh dari-Nya, dan dia bersaksi bahwa Surga benar adanya dan Neraka benar adanya, maka Allāh ﷻ akan memasukkan dia ke dalam Surga sesuai dengan apa yang telah diamalkan.” (HR. Bukhāri dan Muslim)

Nabi shalallahu alaihi wasalam bersabda:

فَإِنَّ الله قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا الله يُبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ الله

“Maka sesungguhnya Allāh telah mengharamkan Neraka bagi orang-orang yang mengatakan ‘ لَا إِلَهَ إِلَّا الله’ (tidak ada illah yang berhaq disembah kecuali Allāh), yang dia mengharap dengan kalimat tersebut Wajah Allāh.” (HR. Bukhāri dan Muslim)

Maka prioritas dakwah para Rasul dan orang-orang yang mengikuti mereka adalah Tauhid. dan Ini menunjukkan bahwasanya modal utama masuk surga adalah dengan bertauhid.

03. Bahaya Syirik

Allāh memang Maha Pengampun, akan tetapi apabila seseorang meninggal dunia dalam keadaan berbuat syirik besar kepada Allāh, maka Allāh tidak akan mengampuni dosa syirik, dia kekal di dalam Neraka selama-lamanya dan tidak ada harapan baginya untuk masuk ke dalam Surga.

Allāh berfirman:

إِنَّ اللهَ لاَيَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَادُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَآءُ

“Sesungguhnya Allāh tidak mengampuni dosa syirik, dan masih mengampuni dosa yang lain bagi siapa yang dikehendaki.” (An-Nisā’: 48)

إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

“Sesungguhnya, barang siapa yang menyekutukan Allāh, maka Allāh mengharamkan baginya Surga, dan tempat kembalinya adalah Neraka, dan tidak ada penolong bagi orang-orang yang zhalim.” (Al-Mā’idah: 72)

04. Syirik Membatalkan Amal

Allāh berfirman:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ

“Dan sungguh-sungguh telah diwahyukan kepadamu Wahai Muhammad dan orang-orang sebelummu bahwa ‘Apabila kamu berbuat syirik maka sungguh akan batal amalanmu dan jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi.’ Maka sembahlah Allāh saja dan jadilah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.” (Az-Zumar: 65-66)

Seorang Nabi pun akan batal amalannya apabila dia berbuat syirik. Terkadang sebuah perbuatan yang kita anggap biasa bisa menghancurkan amalan sebesar gunung.

05. Taubat dari Kesyirikan

Orang yang berbuat syirik dan dia meninggal dunia tanpa bertaubat kepada Allah, maka dosa syiriknya tidak akan diampuni. Namun, apabila dia bertaubat sebelum meninggal, maka Allah akan mengampuni dosanya seberapapun besar dosa tersebut. 

Taubat Nasuha adalah taubat yang terpenuhi di dalamnya tiga syarat: Menyesal, Meninggalkan perbuatan tersebut, Bertekad kuat untuk tidak mengulangi lagi.

Allah berfirman:

قُلْ يَاعِبَادِي الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri sendiri (dengan berbuat dosa), janganlah berputus asa dari rahmat Allāh. Sesungguhnya Allāh mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)

Rasulullāh ﷺ bersabda:

إِنَّ اللهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ

“Sesungguhnya Allāh menerima taubat seorang hamba selama ruh belum sampai ke tenggorokan.” (HR. Tirmidzi 3537 dan Ahmad 2120)

Supaya tidak terjerumus ke dalam kesyirikan maka harus belajar Tauhid dan memahaminya dengan baik, dan mengetahui jenis-jenis kesyirikan agar bisa menjauhinya.

Waallahu 'Alam