Tadabbur Qur'an Surat Al Fatihah Ayat 7

Li Yaddabbaru Ayatih / Markaz Tadabbur di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil, professor fakultas syari'ah Universitas Qashim - Saudi Arabia

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ (7)

(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan pula (jalan) mereka yang sesat. 

1. Mungkin sebagian dari kita bertanya tentang penyandaran kata "shirot" kepada orang yang diberikan kepadanya nikmat, dan tidak dicukupkan dengan : { الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ } ?

Ibnu al-Qoyyim dalam jawabannya berkata : tatkala orang yang meminta shirot al-Mustaqim adalah orang yang memohon sesuatu yang sebagian manusia telah berpaling darinya, berharap menapaki jalan yang telah dilalui oleh orang-orang pilihan Allah dalam keadaan terkucilkan dan tertekan, dan jiwa tertutupi oleh rasa takut yang mencekam; Allah kemudian mengingatkan bahwa orang yang berada di jalan itu adalah :

 { الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا }

mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. An Nisa : 69

maka disandarkanlah kata "shirot" kepada orang-orang yang menempuh jalan itu, dan mereka adalah orang-orang Allah keruniakan kepada mereka kenikmatan; agar hilang dari diri orang-orang yang memohon hidayah dan menempuh shirot rasa takut dalam kesendiriannya dari orang-orang sekitarnya, dan agar mereka mengatahui bahwa sahabat-sahabatnya yang berada dijalan itu adalah mereka yang dikaruniakan oleh Allah kenikmatan yang agung sehingga mereka tidak lagi terpengaruh dengan pelanggaran orang-orang yang melenceng, dan pada hakikatnya mereka tidaklah memiliki kekuatan kecuali hanyalah sedikit, meskipun jumlah mereka yang banyak, sebagaimana yang dikatakan oleh ulama terdahulu : 

“Hendaklah engkau menempuh jalan kebenaran. Jangan engkau berkecil hati dengan sedikitnya orang yang mengikuti jalan kebenaran tersebut. Hati-hatilah dengan jalan kebatilan. Jangan engkau tertipu dengan banyaknya orang yang mengikuti yang akan binasa”.

2. { صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ } Adalah merupakan isyarat bahwa orang yang mendapat petunjuk dari Allah tidaklah dalam kesendirian dan kesepian, dan bahwasanya walaupun dia merasa terasingkan diantara orang-orang yang melenceng dari kebenaran; tetapi sebenarnya jalan yang ia lalui penuh dengan orang-orang shalih, yang mereka adalah orang-orang di karuniakan atas mereka kenikmatan, maka hendaklah ia gembira dengan hal itu.

3. Banyak yang menyangka ketika membaca tafsir ayat ini bahwa orang-orang yahudi adalah yang dimurkai dan orang-orang nashrani telah tersesat dari jalan yang benar, bahwasanya kedua sifat ini dikhusukan kepada mereka ( yahudi dan nasrani ) saja, padahal Allah memerintahkan untuk membaca surah al-Fatihah di setiap shalat, bagaimana mungkin Allah memerintahkan untuk memohon perlindungan dari sesuatu yang Dia sendiri tidak mengabarkan kepada hamba-Nya untuk berhati-hati dari perkara itu, dan mereka tidak menyadari bahwasanya mereka telah melakukan kesalahan ? karena pada hakikatnya termasuk diantara orang-orang yang dimurkai siapapun yang tidak mengamalkan ilmunya ( syari'at islam ), dan termasuk diantara orang-orang yang tersesat siapa yang mengamalkan sesuatu tanpa ilmu yang benar.

4. Pada lafazh : { أَنْعَمْتَ } beberapa fawaid :

- 1) Bahwa hidayah yang membawa seseorang kepada jalan yang lurus adalah diantara nikmat

Allah yang paling agung.

- 2) Bahwa hidayah bukanlah dengan amalan seorang hamba, tetapi merupakan nikmat yang

datang bukan dari amalan itu yang diberikan kepadanya.

- 3) Bahwa satu-satunya yang memberi hidayah adalah Allah.

- 4) Dan ada adab atas nikmat itu yang dihaturkan kepada sang pemberi hidayah.

5. Diantara sebab keluarnya seseorang dari shirot al-mustaqim adalah kejahilan dan kerasnya hati, adapun orang-orang keluar karena kerasnya hati mereka adalah : 

orang-orang dimurlai oleh Allah, yang dikepalai oleh Yahudi, seadangkan orang-orang yang keluar karena kebodohan mereka adalah : mereka yang tidak mengetahui kebenaran, yang diketuai oleh Nashrani, dan inilah keadaan mereka ( orang-orang Nashrani ) sebelum hari kebangkitan, adapun setelah hari kebangkitan mereka telah mengetahui kebenaran itu, dan mereka melanggarnya, maka pada saat itu kedudukan mereka sama seperti orang-orang Yahudi, dan setiap dari mereka mendapat murka dari Allah.

6. Setiap hari kita selalu mengulurkan tangan untuk mengangkat sumpah kepada Allah dengan : { إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ } , dan ini berarti hidup kita berjalan diantara { الْحَمْدُ لِلَّهِ } sampai ( آمين ) , mesti ada kesetiaan dengan janji dari hati yang bahagia tatkala mendengarkan : { الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ } , dan berdiri mengangungkan dengan : { مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ } , dan dengan perasaan hina dihadapan-Nya mengharap : { اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ } , serta khawatir akan termasuk diantara : { الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ } , itulah ikrar yang paling agung dalam surah yang paling agung ini, maka apakah hati kita telah konsisten dengan ikrar-ikrar itu ?

7. Diantara perkara agung yang mesti diperhatikan oleh orang-orang meremehkan perkara penyerupaan diri terhadap orang-orang kafir adalah : tadabbur surah al-Fatihah; karena sesungguhnya surah ini akan mengangkat perkara itu dari akarnya, akan tetapi ada hal yang sangat disayangkan : yaitu ketika diantara orang-orang muslim dalam shalatnya senantiasa memohon agar Allah menjauhkannya dari jalan orang-orang yang dimurkai dan yang tersesat, lalu kemudian mereka berbuat hal yang menyerupai perbuatan mereka ! sungguh itulah sebab yang besar yang menjadikan mereka sulit untuk mencontoh perilaku nabi dan para sahabatnya, dan menjadikan mereka mudah menyerupai perilaku musuh-musuh Allah !

8. Banyak disebutkan pada surah tertentu dalam al-Qur'an suatu perkara dengan penjelasan yang abstrak, kemudian dijelaskan terperinci pada surah-surah setelahnya, contohnya dalam surah al-Fatihah disebutkan "orang-orang yang dimurkai dan tersesat", dan penjelasannya yang lebih luas disebutkan di surah al-Baqarah dan 'ali Imran, juga dalam surah al-An'am dan al-Furqon dan Yasin disebutkan "generasi-generasi pemabangkang" , kemudian perinciannya dijelaskan pada surah-surah setalahnya seperti al-A'raf dan asy-Syu'ara' dan ash-Shoffat.

------------------------------

Referensi : https://tafsirweb.com/60-surat-al-fatihah-ayat-7.html