Pengertian Wahabi Dan Siapa Muhammad Bin Abdul Wahhab
Oleh Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu
Orang-orang biasa menuduh "wahabi " kepada setiap orang yang melanggar tradisi, kepercayaan dan bid'ah mereka, sekalipun kepercayaan-kepercayaan mereka itu rusak, bertentangan dengan Al-Qur'anul Karim dan hadits-hadits shahih. Mereka menentang dakwah kepada tauhid dan enggan berdo'a (memohon) hanya kepada Allah semata.
Suatu kali, di depan seorang syaikh penulis membacakan hadits riwayat Ibnu Abbas yang terdapat dalam kitab Al-Arba'in An-Nawa-wiyah. Hadits itu berbunyi.
"Artinya : Jika engkau memohon maka mohonlah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan, maka mintalah pertolongan kepada Allah." [Hadits Riwayat At-Tirmidzi, ia berkata hadits hasan shahih]
Penulis sungguh kagum terhadap keterangan Imam An-Nawawi ketika beliau mengatakan, "Kemudian jika kebutuhan yang dimintanya -menurut tradisi- di luar batas kemampuan manusia, seperti meminta hidayah (petunjuk), ilmu, kesembuhan dari sakit dan kesehatan maka hal-hal itu (mesti) memintanya hanya kepada Allah semata. Dan jika hal-hal di atas dimintanya kepada makhluk maka itu amat tercela."
Lalu kepada syaikh tersebut penulis katakan, "Hadits ini berikut keterangannya menegaskan tidak dibolehkannya meminta pertolongan kepada selain Allah." Ia lalu menyergah, "Malah sebaliknya, hal itu dibolehkan!"
Penulis lalu bertanya, "Apa dalil anda?" Syaikh itu ternyata marah sambil berkata dengan suara tinggi, "Sesungguhnya bibiku berkata, wahai Syaikh Sa'd![1]" dan Aku bertanya padanya, "Wahai bibiku, apakah Syaikh Sa'd dapat memberi manfaat kepadamu?" Ia menjawab, "Aku berdo'a (meminta) kepadanya, sehingga ia menyampaikannya kepada Allah, lalu Allah menyembuhkanku."
Lalu penulis berkata, "Sesungguhnya engkau adalah seorang alim. Engkau banyak habiskan umurmu untuk membaca kitab-kitab. Tetapi sungguh mengherankan, engkau justru mengambil akidah dari bibimu yang bodoh itu."
Ia lalu berkata, "Pola pikirmu adalah pola pikir wahabi. Engkau pergi berumrah lalu datang dengan membawa kitab-kitab wahabi."
Padahal penulis tidak mengenal sedikitpun tentang wahabi kecuali sekedar penulis dengar dari para syaikh. Mereka berkata tentang wahabi, "Orang-orang wahabi adalah mereka yang melanggar tradisi orang kebanyakan. Mereka tidak percaya kepada para wali dan karamah-karamahnya, tidak mencintai Rasul dan berbagai tuduhan dusta lainnya."
Jika orang-orang wahabi adalah mereka yang percaya hanya kepada pertolongan Allah semata, dan percaya yang menyembuhkan hanyalah Allah, maka aku wajib mengenal wahabi lebih jauh."
Kemudian penulis tanyakan jama'ahnya, sehingga penulis mendapat informasi bahwa pada setiap Kamis sore mereka (jamaah wahabi) menyelenggarakan pertemuan untuk mengkaji pelajaran tafsir, hadits dan fiqih.
Bersama anak-anak penulis dan sebagian pemuda intelektual, penulis mendatangi majelis mereka. Kami masuk ke sebuah ruangan yang besar. Sejenak kami menanti, sampai tiada berapa lama seorang syaikh yang sudah berusia masuk ruangan. Beliau memberi salam kepada kami dan menjabat tangan semua hadirin dimulai dari sebelah kanan, beliau lalu duduk di kursi dan tak seorang pun berdiri untuknya. Penulis berkata dalam hati, "Ini adalah seorang syaikh yang tawadhu' (rendah hati), tidak suka orang berdiri untuknya (dihormati)."
Lalu syaikh membuka pelajaran dengan ucapan,
"Artinya : Sesungguhnya segala puji adalah untuk Allah. Kepada Allah kami memuji, memohon pertolongan dan ampunan.", dan selanjutnya hingga selesai, sebagaimana Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam biasa membuka khutbah dan pelajarannya.
Kemudian Syaikh itu memulai bicara dengan menggunakan bahasa Arab. Beliau menyampaikan hadits-hadits seraya menjelaskan derajat shahihnya dan para perawinya. Setiap kali menyebut nama Nabi, beliau mengucapkan shalawat atasnya. Di akhir pelajaran, beberapa soal tertulis diajukan kepadanya. Beliau menjawab soal-soal itu dengan dalil dari Al-Qur'anul Karim dan sunnah Nabi Shalallaahu alaihi wasalam . Beliau berdiskusi dengan hadirin dan tidak menolak setiap penanya.
Di akhir pelajaran, beliau berkata, "Segala puji bagi Allah bahwa kita termasuk orang-orang Islam dan salaf.[2]. Sebagian orang menuduh kita orang-orang wahabi. Ini termasuk tanaabuzun bil alqaab (memanggil dengan panggilan-panggilan yang buruk). Allah melarang kita dari hal itu dengan firmanNya,
"Artinya : Dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk." [Al-Hujurat: 11]
Dahulu, mereka menuduh Imam Syafi'i dengan rafidhah. Beliau lalu membantah mereka dengan mengatakan, "Jika rafidah (berarti) mencintai keluarga Muhammad. Maka hendaknya jin dan manusia menyaksikan bahwa sesungguhnya aku adalah rafidhah."
Maka, kita juga membantah orang-orang yang menuduh kita wahabi, dengan ucapan salah seorang penyair, "Jika pengikut Ahmad adalah wahabi. Maka aku berikrar bahwa sesungguhnya aku wahabi."
Ketika pelajaran usai, kami keluar bersama-sama sebagian para pemuda. Kami benar-benar dibuat kagum oleh ilmu dan kerendahan hatinya. Bahkan aku mendengar salah seorang mereka berkata, "Inilah syaikh yang sesungguhnya!"
PENGERTIAN WAHABI
Musuh-musuh tauhid memberi gelar wahabi kepada setiap muwahhid (yang mengesakan Allah), nisbat kepada Muhammad bin Abdul Wahab, Jika mereka jujur, mestinya mereka mengatakan Muhammadi nisbat kepada namanya yaitu Muhammad. Betapapun begitu, ternyata Allah menghendaki nama wahabi sebagai nisbat kepada Al-Wahhab (Yang Maha Pemberi), yaitu salah satu dari nama-nama Allah yang paling baik (Asmaa'ul Husnaa).
Jika shufi menisbatkan namanya kepada jama'ah yang memakai shuf (kain wol) maka sesungguhnya wahabi menisbatkan diri mereka dengan Al-Wahhab (Yang Maha Pemberi), yaitu Allah yang memberikan tauhid dan meneguhkannya untuk berdakwah kepada tauhid.
MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB
Beliau dilahirkan di kota 'Uyainah, Nejed pada tahun 1115 H. Hafal Al-Qur'an sebelum berusia sepuluh tahun. Belajar kepada ayahandanya tentang fiqih Hambali, belajar hadits dan tafsir kepada para syaikh dari berbagai negeri, terutama di kota Madinah. Beliau memahami tauhid dari Al-Kitab dan As-Sunnah. Perasaan beliau tersentak setelah menyaksikan apa yang terjadi di negerinya Nejed dengan negeri-negeri lainnya yang beliau kunjungi berupa kesyirikan, khurafat dan bid'ah. Demikian juga soal menyucikan dan mengkultuskan kubur, suatu hal yang bertentangan dengan ajaran Islam yang benar.
Ia mendengar banyak wanita di negerinya bertawassul dengan pohon kurma yang besar. Mereka berkata, "Wahai pohon kurma yang paling agung dan besar, aku menginginkan suami sebelum setahun ini."
Di Hejaz, ia melihat pengkultusan kuburan para sahabat, keluarga Nabi (ahlul bait), serta kuburan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, hal yang sesungguhnya tidak boleh dilakukan kecuali hanya kepada Allah semata.
Di Madinah, ia mendengar permohonan tolong (istighaatsah) kepada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, serta berdo'a (memohon) kepada selain Allah, hal yang sungguh bertentangan dengan Al-Qur'an dan sabda Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam . Al-Qur'an menegaskan:
"Artinya : Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfa'at dan tidak (pula) memberi madharat kepadamu selain Allah, sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zhalim." [Yunus : 106]
Zhalim dalam ayat ini berarti syirik. Suatu kali, Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam berkata kepada anak pamannya, Abdullah bin Abbas:
"Artinya : Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan mintalah pertolongan kepada Allah." [Hadits Riwayat At-Tirmidzi, ia berkata hasan shahih)
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab menyeru kaumnya kepada tauhid dan berdo'a (memohon) kepada Allah semata, sebab Dialah Yang Mahakuasa dan Yang Maha Menciptakan sedangkan selainNya adalah lemah dan tak kuasa menolak bahaya dari dirinya dan dari orang lain. Adapun mahabbah (cinta kepada orang-orang shalih), adalah dengan mengikuti amal shalihnya, tidak dengan menjadikannya sebagai perantara antara manusia dengan Allah, dan juga tidak menjadikannya sebagai tempat bermohon selain daripada Allah.
[1]. Penentangan Orang-Orang Batil Terhadapnya
Para ahli bid'ah menentang keras dakwah tauhid yang dibangun oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Ini tidak mengherankan, sebab musuh-musuh tauhid telah ada sejak zaman Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam . Bahkan mereka merasa heran terhadap dakwah kepada tauhid. Allah berfirman:
"Artinya : Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan." [Shaad : 5]
Musuh-musuh syaikh memulai perbuatan kejinya dengan memerangi dan menyebarluaskan berita-berita bohong tentangnya. Bahkan mereka bersekongkol untuk membunuhnya dengan maksud agar dakwahnya terputus dan tak berkelanjutan. Tetapi Allah Subhannahu wa Ta'ala menjaganya dan memberinya penolong, sehingga dakwah tauhid terbesar luas di Hejaz, dan di negara-negara Islam lainnya.
Meskipun demikian, hingga saat ini, masih ada pula sebagian manusia yang menyebarluaskan berita-berita bohong. Misalnya mereka mengatakan, dia (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab) adalah pembuat madzhab yang kelima[3], padahal dia adalah seorang penganut madzhab Hambali. Sebagian mereka mengatakan, orang-orang wahabi tidak mencintai Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam serta tidak bershalawat atasnya. Mereka anti bacaan shalawat.Padahal kenyataannya, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah- telah menulis kitab "Mukhtashar Siiratur Rasuul Shalallaahu alaihi wasalam ". Kitab ini bukti sejarah atas kecintaan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Mereka mengada-adakan berbagai cerita dusta tentang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, suatu hal yang karenanya mereka bakal dihisab pada hari Kiamat.
Seandainya mereka mau mempelajari kitab-kitab beliau dengan penuh kesadaran, niscaya mereka akan menemukan Al-Qur'an, hadits dan ucapan sahabat sebagai rujukannya.
Seseorang yang dapat dipercaya memberitahukan kepada penulis, bahwa ada salah seorang ulama yang memperingatkan dalam pengajian-pengajiannya dari ajaran wahabi. Suatu hari, salah seorang dari hadirin memberinya sebuah kitab karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Sebelum diberikan, ia hilangkan terlebih dahulu nama pengarangnya. Ulama itu membaca kitab tersebut dan amat kagum dengan kandungannya. Setelah mengetahui siapa penulis buku yang dibaca, mulailah ia memuji Muhammad bin Abdul Wahab.
[2]. Dalam Sebuah Hadits Disebutkan:
" Artinya : Ya Allah, berilah keberkahan kepada kami di negeri Syam, dan di negeri Yaman. Mereka berkata, 'Dan di negeri Nejed.' Rasulullah berkata, 'Di sana banyak terjadi berbagai kegoncangan dan fitnah, dan di sana (tempat) munculnya para pengikut setan." [Hadits Riwayat Al-Bukhari dan Muslim]
Ibnu Hajar Al-'Asqalani dan ulama lainnya menyebutkan, yang dimaksud Nejed dalam hadits di atas adalah Nejed Iraq. Hal itu terbukti dengan banyaknya fitnah yang terjadi di sana. Kota yang juga di situ Al-Husain bin Ali Radhiyallahu anhuma dibunuh.
Hal ini berbeda dengan anggapan sebagian orang, bahwa yang dimaksud dengan Nejed adalah Hejaz, kota yang tidak pernah tampak di dalamnya fitnah sebagaimana yang terjadi di Iraq. Bahkan sebaliknya, yang tampak di Nejed Hejaz adalah tauhid, yang karenanya Allah menciptakan alam, dan karenanya pula Allah mengutus para rasul.
[3]. Sebagian Ulama Yang Adil Sesungguhnya Menyebutkan
Bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab adalah salah seorang mujaddid (pembaharu) abad dua belas Hijriyah. Mereka menulis buku-buku tentang beliau. Di antara para pengarang yang menulis buku tentang Syaikh adalah Syaikh Ali Thanthawi. Beliau menulis buku tentang "Silsilah Tokoh-tokoh Sejarah", di antara mereka terdapat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dan Ahmad bin 'Irfan.
Dalam buku tersebut beliau menyebutkan, akidah tauhid sampai ke India dan negeri-negeri lainnya melalui jama'ah haji dari kaum muslimin yang terpengaruh dakwah tauhid di kota Makkah. Karena itu, kompeni Inggris yang menjajah India ketika itu, bersama-sama dengan musuh-musuh Islam memerangi akidah tauhid tersebut. Hal itu dilakukan karena mereka mengetahui bahwa akidah tauhid akan menyatukan umat Islam dalam melawan mereka.
Selanjutnya mereka mengomando kepada kaum Murtaziqah[4] agar mencemarkan nama baik dakwah kepada tauhid. Maka mereka pun menuduh setiap muwahhid yang menyeru kepada tauhid dengan kata wahabi. Kata itu mereka maksudkan sebagai padanan dari tukang bid'ah, sehingga memalingkan umat Islam dari akidah tauhid yang menyeru agar umat manusia berdo'a hanya semata-mata kepada Allah. Orang-orang bodoh itu tidak mengetahui bahwa kata wahabi adalah nisbat kepada Al-Wahhaab (yang Maha Pemberi), yaitu salah satu dari Nama-nama Allah yang paling baik (Asma'ul Husna) yang memberikan kepadanya tauhid dan menjanjikannya masuk Surga.
[Disalin dari kitab Minhajul Firqah An-Najiyah Wat Thaifah Al-Manshurah, edisi Indonesia Jalan Golongan Yang Selamat, Penulis Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, Penerjemah Ainul Haris Umar Arifin Thayib, Penerbit Darul Haq]
www.almanhaj.or.id
________
Foote Note
[1]. Dia memohon pertolongan kepada Syaikh Sa’d yang dikuburkan di dalam masjidnya.
[2]. Orang-orang Salaf adalah mereka yang mengikuti jalan para Salafus Shalih. Yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat dan tabi’in
[3].Sebab yang terkenal dalam dunia Fiqih hanya ada empat madzhab, Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali.
[4]. Kaum Murtaziqoh yaitu orang-orang bayaran.
=============================================================
Wahabi
Kata “Wahabi” diambil dari nama seorang ulama besar yang berjuang menegakkan tauhid di Jazirah Arab, Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahab. Sedangkan, secara bahasa, istilah “Wahabi” terdiri dari dua suku kata: “Wahab”, artinya ‘Dzat Yang Maha Pemberi’; kata ini merupakan salah satu asma`ul husna, dan “i” (huruf ya’ nisbah), yaitu huruf ya’ yang menandakan golongan.
Gelar “wahabi” sering digunakan oleh ahli bidah dan para
tokoh kesyirikan untuk menyebut orang yang berusaha mendakwahkan tauhid,
membasmi kesyirikan, serta menegakkan sunah dan mematikan bidah. Mereka
mengatakan bahwa tindakan di atas merupakan tema gerakan yang
dipelopori oleh Muhammad bin Abdul Wahab. Di samping itu, mereka juga
menambahi dengan berbagai tuduhan kepada Wahabi, di antaranya: membenci
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, memusuhi para wali, mengingkari karamah, dan melarang orang untuk berziarah kubur.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa gelar “Wahabi” berasal dari orang yang membenci dakwah Muhammad bin Abdul Wahab, dan bukan nama resmi yang ditetapkan oleh pengikut Muhammad bin Abdul Wahab sendiri. Ini menunjukkan bahwa asal gerakan ini tidak memiliki nama, karena gerakan yang dipelopori oleh Muhammad bin Abdul Wahab ini, pada hakikatnya, hanyalah bertujuan mengajak masyarakat untuk kembali pada Islam yang murni (the pure Islam) berdasarkan Alquran dan Sunah.
Tujuan utama rival dakwah Muhammad bin Abdul Wahab menggunakan gelar ini adalah untuk menakut-nakuti agar masyarakat tidak terpengaruh dengan ajakan dakwah tauhid dan sunah. Dengan diberi gelar yang menakutkan dan terkesan aneh, orang akan semakin waspada dan berhati-hati. Dengan gelar ini pula, para tokoh kebidahan bisa semakin mudah memojokkan para dai yang mengajak umat kepada tauhid dan sunah.
Satu hal yang perlu kita pertanyakan adalah: benarkah gelar dan
tuduhan yang diberikan oleh lawan dakwah Muhammad bin Abdul Wahab?
Karena itu, penting bagi kita untuk memahami sejarah perjalanan dakwah
beliau, untuk mengetahui kesalahan dan kedustaan pernyataan di atas,
secara lebih detail.
Sisi kesalahan pemberian gelar “Wahabi”
Ada beberapa catatan yang menunjukkan kesalahan penggunaan gelar ini
untuk menyebut dakwah yang dipelopori Muhammad bin Abdul Wahab:
Pertama: Ditinjau dari sisi bahasa.
Jika tujuannya adalah untuk menyatakan “kelompok Muhammad bin Abdul
Wahab” maka, seharusnya, gelarnya bukan “Wahabi” tetapi “Muhammadi”,
karena nama beliau bukan “Wahab” tapi “Muhammad”. Menggunakan gelar
“Wahabi” berarti salah sasaran, karena tidak sesuai dengan nama
pelopornya.
Kedua: Ditinjau dari sisi makna “Wahabi”.
Istilah “Wahabi” diambil dari kata “Al-Wahab”, yang artinya ‘Dzat Yang Maha Pemberi’. Kata “Al-Wahab” merupakan salah satu nama Allah (asma`ul husna).
Sedangkan tambahan huruf “i” pada akhir kata ini memberikan makna
tambahan “golongan”. Sehingga, istilah “Wahabi” secara bahasa artinya
‘golongan Al-Wahab‘, atau ‘golongan Allah taala‘.
Jika orang sufi menisbahkan dirinya kepada jemaah yang memakai pakaian suf (wol), maka “Wahabi” dinisbahkan kepada Al-Wahab, yaitu Allah, yang telah memberikan anugerah tauhid dan memberikan kemenangan dengan tauhid.
Ketiga: Ditinjau dari tujuan.
Setelah memahami makna istilah “Wahabi”, maka pada hakikatnya,
istilah ini justru akan menjadi pujian kepada orang yang mendapat gelar
“Wahabi”, karena dengan gelar ini, berarti dia telah dinyatakan sebagai
pengikut Allah. Dengan demikian, gelar ini adalah sebuah pujian, bukan
celaan. Sedangkan, tujuan utama para musuh dakwah tauhid dan sunah
adalah untuk mencela dan menyudutkan para dai tauhid dan sunah.
Oleh karena itu, sebagian ulama sunah merasa bangga dengan gelar ini. Bahkan, ada sebagian dari ulama tersebut yang menyatakan,
إنْ كان تابعُ أحمدٍ مُتوهِّبا
فأنا المقِرُّ بأنني وهّابي
“Jika yang menjadi pengikut Ahmad (Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam)
hanyalah Wahabi, maka aku akui bahwa aku adalah Wahabi.”
Keempat: Ditinjau dari syariat.
Memberikan gelar kepada sesama muslim, hukumnya terlarang. Allah berfirman,
وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ
“Jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan.” (QS. Al-Hujurat:11)
(Minhaj Al-Firqah An-Najiyah wa Ath-Thaifah Al-Manshurah, Muhammad bin Jamil Zainu)
Pencetus pertama istilah “Wahabi”
Suatu hal yang jelas, bahwa Inggris merupakan negara barat pertama
yang cukup tertarik untuk menggelari dakwah tauhid ini dengan gelar
“Wahabisme”. Alasannya, karena dakwah ini telah mencapai wilayah koloni
Inggris yang paling berharga, yaitu India. Banyak ulama di India yang
memeluk dan menyokong dakwah Imam Ibnu Abdil Wahab. Inggris juga
menyaksikan tumbuh subur dan berkembangnya dakwah ini, yang para
pengikutnya telah mempengaruhi sekelompok ulama ternama di penjuru dunia
Islam.
Selama masa itu, Inggris juga mengasuh sekte Qadiyani dalam rangka mengganti arus utama ideologi Islam. (Tashih Khatha’ Haula Al-Wahabiyah, hlm. 47)
Mereka berhasrat untuk memperluas wilayah kekuasaan mereka di India,
dengan mengandalkan sebuah sekte ciptaan mereka sendiri, Qadiyani, yaitu
sekte yang diciptakan, diasuh, dan dilindungi oleh Inggris. Sekte ini
tidak menyeru jihad untuk mengusir pasukan kolonial Inggris yang berdiam
di India.
Oleh karena itulah, ketika dakwah Imam Ibnu Abdil Wahab mulai
menyebar di India, dan dengannya datanglah slogan “jihad melawan
penjajah asing”, Inggris menjadi semakin resah. Mereka pun menggelari
dakwah ini dan para pengikutnya sebagai “Wahabi”, dalam rangka
mengecilkan hati kaum muslimin di India yang ingin turut bergabung
dengannya, dengan harapan, perlawanan terhadap penjajah Inggris tidak
akan menguat kembali. Banyak ulama, yang mendukung dakwah ini, ditindas.
Bahkan, beberapa ulama dibunuh, dan yang lainnya dipenjara.
W. Wilson Hunter, dalam bukunya yang berjudul The Indian Musalmans, mencatat bahwa selama pemberontakan orang India pada tahun 1867, Inggris paling menakuti kebangkitan muslim “Wahabi” yang tengah bangkit menentang Inggris. Hunter menyatakan di dalam bukunya,“There is no fear to the British in India except from the Wahabis, for they are causing disturbances againts them, and agitating the people under the name of jihad to throw away the yoke of disobedience to the British and their authority.”Terjemahannya, “Tidak ada ketakutan bagi Inggris di India melainkan terhadap kaum Wahabi, karena merekalah yang menyebabkan kerusuhan dalam rangka menentang Inggris dan mengagitasi (membangkitkan semangat) umat atas nama jihad untuk memusnahkan penindasan akibat ketidaktundukan kepada Inggris dan kekuasaan mereka.”
Silakan lihat:
W.W. Hunter. The Indian Musalmans (Cetakan 1). 1871. London: Trűbner and Co.
W.W. Hunter. The Indian Musalmans (Second Edition). 1945. Calcuta: Comrade Publishers.
W.W. Hunter. The Indian Musalmans (Reprint). 2002. New Delhi: Rupa & Co.
Artikel selengkapnya bisa dibuka di:
Artikel www.yufidia.com