Sahl bin 'Abdillah rahimahullah berkata,
حَرَامٌ عَلَى قَلْبٍ أَن يَدْخُلَهُ النُّورُ وَفِيهِ شَيْءٌ مِمَّا يَكْرَهُهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ
Asal perkataan ini dalam wahyu adalah firman Allah ta'ala,
سَأَصْرِفُ عَنْ آَيَاتِيَ الَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ
"Aku akan memalingkan ayat-Ku dari orang-orang yang menyombongkan diri di muka Bumi tanpa hak (QS al-A'raf ayat 146)."
Sofyan bin Uyainah rahimahullah berkata soal tafisr ayat ini "Aku (Allah) menghalangi mereka dari memahami Quran"
dan Muhammad bin Yusuf al Firyabi berkata : "Aku (Allah) mencegah hati mereka dari merenungkan perintaKu"
Hati mereka dijauhkan dari memahami Al Quran sesuai dengan kesombongan dan keras kepala didalamnya, hukuman ini terjadi sesuai dengan dosa mereka.
Disebutkan oleh Abul Fida Ibnu Katsir rahimahullah didalam tafsirnya : "mereka ini tatkala menjadi sombong dalam hati mereka, Allah menghukum hati mereka dengan hukuman yang besar yaitu kebodohan. Sebabnya adalah karena kesombongan dalam hati mereka.
Orang yang hatinya dimasuki sedikit dari penyakit penyakit ini, seperti sentimen , denhki, khianat, arogan , niat jahat, penuh prasangka, Allah pasti akan mengalihkannya dari kitabNya
Menjauhkan dari kitab-Nya bukanlah maksudnya dia tidak mampu menghafal Al Quran, kasus yang terjadi adalah seperti yang Ibn Al Hajj al Maliki sebutkan di al Madkhal "Kita tengah melihat banyak orang yang sombong bisa menghafal Quran. Namun maksudnya adalah menjauhkan mereka dari mendapat manfaatnya. Mereka tidak ikut serta memahaminya, tidak pula ikut serta mengamalkannya."
Dengan begitu apa yang Aku sebutkan tadi semakin kuat, prestasi dalam ilmu bukanlah dengan kekuatan yang tampak melainkan dengan kondisi batin. Terutama bersihnya hati hamba, ketika hati hamba bersih penyakit terutama yang paling besar adalah kesombongan, maka Allah membukakan pintu pemahaman untuknya, yang tidak dibukakan untuk yang lain.