Metode Ahlus Sunnah Dalam Memahami Nama-Nama Dan Sifat-Sifat Allah Ta'ala

 Oleh Syaikh Muhammad Sholih Al-Utsaimin rahimahullah

Ahlussunnah wal jama'ah, adalah mereka yang bersatu memegang sunnah Nabi shalallahu alaihi wasalam, mengamalkannya secara lahir dan batin, baik dalam setiap ucapan, amalan maupun keyakinan.

Metode mereka dalam bab nama-nama dan sifat-sifat Allah adalah sebagai berikut:

1. Dalam masalah itsbat (penetapan) mereka menetapkan apa-apa yang ditetapkan oleh Allah bagi diri-Nya dalam Kitab-Nya atau melalui lisan Rasulullah tanpa melakukan Tahrif, Ta'thil, Takyif dan Tamsil.

2. Dalam masalah Nafi (peniadaan), mereka meniadakan apa-apa yang Allah tiadakan dari diri-Nya dalam Kitab-Nya atau melalui lisan Rasul-Nya sambil meyakini bahwa Allah memiliki nama dan sifat sempurna yang merupakan lawan dari nama dan sifat yang ditiadakan tersebut.

3. Dalam masalah yang tidak ditetapkan dan tidak pula ditiadakan, yang diperselisihkan oleh manusia, seperti jism (jasad), hayyiz (tempat) dan jihah (arah), mereka tidak menetapkannya dan tidak pula meniadakannya karena tidak ada dalil. Adapun dari segi maknanya, mereka menuntut perincian. Jika yang dikehendaki adalah makna yang batil dan Allah bersih darinya, maka mereka menolaknya. Jika yang dikehendaki adalah makna yang benar dan bisa diterapkan bagi Allah, maka mereka menerimanya.

Metode ini wajib, merupakan pertengahan antara para pelaku ta'thil dengan para pelaku tamsil. Wajibnya metode ini diperkuat oleh dalil aqli dan naqli:

Segi pendalilan Dalil aqli adalah; bahwasanya perincian perkataan tentang apa-apa yang wajib, yang boleh dan yang tidak boleh ditetapkan bagi Allah Ta'ala tidak bisa ditangkap kecuali melalui wahyu, sehingga wajib untuk mengikuti wahyu dalam masalah ini dengan menetapkan apa yang ditetapkan, meniadakan apa yang ditiadakan darn mendiamkan apa yang didiamkan. 

Adapun dalil naqli di antaranya adalah fiman Allah Ta'la :

وَلِلَّهِ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ فَٱدْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا۟ ٱلَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِىٓ أَسْمَٰٓئِهِۦ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

"Hanya milik Allah asama-ul husna, maka memohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma-ul husna tersebut. Dan tinggaikanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam nama-namaNya. Nanti mereka Akan mmendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. 
QS. Al-A'raf (7): 180

Dan firman-Nya:

"..Tidak ada sesuatupun serupa engan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." QS Asy-Syuraa (42): 11

Dan firman-Nya:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ

"Dan janganlah kamu mengikiuti apa yang tidak kamu memiliki pengetahuan tentangnya... QS. Al-Israa' (17):36

Keterangan:

Ayat pertama (QS. Al-A'raf (7): 180) merupakan dalil atas wajibnya itsbat (peniadaan) tanpa melakukan tahrf dan ta'thil, karena keduanya termasuk kategori ilhad.

Ayat kedua (QS Asy-Syuraa (42): 11) merupakan dalil atas wajibnya me niadakarn tamsil.

Ayat ketiga (QS. Al-Israa' (17):36) merupakan dalil atas wajibnya meniadakan takyif dan wajibnya tawaqquf (tidak mengambil kesimpulan hukum) dalam perkara yang tidak ditetapkan maupun tidak ditiadakan.

Segala hal yang ditetapkan bagi Allah berupa sifat merupakan sifat yang sempurma lagi terpuji, dan dengannya Dia disanjung dan sifat tersebut tidak mengandung kekuranga dari sisi manapun. Dengan demikian, semua sifat sempurna adalah tetap bagi Allah Ta'ala dengan bentuk paling sempurna.

Segala sitat yang ditiadakan Allah dari diri-Nya adalah sifat kekurangan, yaitu sifat yang bertentangan dengan sifat kesempurnaan-Nya yang wajib. Sehingga setiap sifat kekurangan tidak layak bagi Allah, karena yang wajib dimiliki-Nya adalah kesempurnaan. 

Apa yang Allah tiadakan dari diri-Nya artinya meniadakan sifat kekurangan tersebut dan menetapkan sifat kesempurmaan. Yang pasti, nafi (peniadaan) tidak menunjukkan kesempurnaan kecuali peniadaan tersebut mengandung unsur pujian. Karena hanya melakukan peniadaan belaka, terkadang disebabkan adanya kelemahan, sehingga hal ini menjadikan cacat, sebagaimana perkataan seorang Penyair:

    Kabilah yang kecil tidak menghianati sebuah perjanjianpun
    Dan mereka tidak pula mendzalimi manusia meski seberat biji sawi.

Dan terkadang disebabkan oleh tidak adanya ke-mampuan, sehingga tidak mengandung pujian. Seperti misalnya aku berkata: "Dinding tidak berbuat dzalim".

Jika hal ini telah jelas, kami katakan: Salah satu hal yang Allah tiadakan dari diri-Nya adalah sifat dzalim, artinya: meniadakan sifat dzalim dari Allah sekaligus menetapkan kesempurnaan lawan dari sifat tersebut (bagi Allah), yaitu adil.

Dan Allah meniadakan lelah dari dirinya, artinya: meniadakan lelah sekaligus menetapkan kesempurnaan lawan dari lelah (bagi Allah) yaitu kuat. Demikian seterusnya hal-hal lainnya yang Allah tiadakan dari diri-Nya. Wallahu a'lam.

A. TAHRIF

Tahrif secara terminologi berarti: Merubah. Menuru istilah berarti merubah nash dari segi lafadz dan maknanya, perubahan lafadz terkadang diikui olen perubahan makna, dan terkadang tidak. Sehingga tahrif terbagi menjadi 3 (tiga):

1. Merubah lafadz sekaligus merubah makna; seperti tahrif yang dilakukan sebagian orang ternadap firman Allah Ta'ala:

وَكَلَّمَ ٱللَّهُ مُوسَىٰ تَكْلِيمًا

Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung." Qs. An-Nisa' (4): 164

Mereka me-nashab-kan lafadz Allah agar yang berbicara adalah Musa.

2 Merubah lafadz tanpa disertai perubahan makna. Seperti mem-fathah-kan huruf dal pada firman Allah Taala:

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ

Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam. QS. Al-Fatihah (1):2

Hal ini pada umumnya tidak terjadi kecuali dari seorang yang jahil, karena pada dasarnya mengandung maksud atau tujuan buruk dari pelakunya.

3. Tahrif Ma'nawi, yaiu menyimpangkan sebuah lafadz dari maknanya yang jelas/gamblang tanpa disertai dalil, seperti tahrif makna "kedua tangan" yang di sandarkan kepada Allan Ta'ala menjadi kekuatan, nikmat dan sejenisnya.

B. TATHIL

Ta'thil dalam terminologi berarti mengosongkan. Dari segi istilah berarti: Mengingkari apa yang wajib ditetapkan untuk Allah berupa nama-nama dan sifat-sifat, atau mengingkari sebagiannya saja. Sehingga ta'thil ada 2 (dua) macam:

1. Ta'thil mutlak; seperti ta'thil yang dilakukan oleh sekte Jahmiyah yang mengingkari semua sifat Allah, bahkan sempalan ekstrim mereka, mengingkari nama-nama Allah pula.

2. Ta'thil sebagian;, seperti ta'thil yang dilakukan oleh sekte Asy-Ariyah yang mengingkari sebagian sifat saja.

Orang pertama yang dikenal melakukan ta'thil dari ummat ini adalah Jad bin Dirham.

C. TAKYIF

Takyif adalah menjabarkan cara atau bentuk sifat Allah, seperti perkataan seseorang "seperti apa bentuk tangan Allah?", atau "Bagaimana cara Allah turun ke langit pertama? Caranya adalah begini dan begitu.

D. TAMSIL DAN TASYBIH

Tamsil adalah menjadikan sesuatu sama dengan sesuatu yang lain. Tasybih adalah menyamakan sesuatu dengan sesuatu yang lain.

Tamsil mengandung persamaan dari segala segi dan Tasybih mengandung persamaan pada sebagian besar sifat. Terkadang keduanya memiliki istilah yang sama. Perbedaan antara keduanya dengan takyif dari 2 (dua) segi, yaitu:

1. Takyif menjabarkan bentuk atau cara sesuatu baik umum maupun khusus dengan menyamakannya dengan sesuatu yang lain. Adapun tamsil dan tasybih menunjukkan bentuk atau cara yang dipersempit dengan menyamakannya atau memiripkannya dengan sesuatu.

Di sini takyif menjadi lebih umum; Karena setiap pelakau tamsil di saat yang sama melakukan takyif pula, tidak sebaliknya.

2. Takyif khusus pada masalah sifat, adapun tamsil terjadi pada masalah ukuran, sifat dan dzat.

Disini tamsil menjadi lebih umum, karena berkaitan dengan dzat, sifat dan ukuran.

Adapun Tasybih yang telah menyesatkan sebagian orang terbagi menjadi 2 (dua), yaitu:

1. Menyerupakan makhluk dengan Allah.

Maksudnya adalah menetapkan bagi makhluk sesuatu yang khusus dimiliki Allah berupa perbuatan, hak dan sifat.

a. Seperi perbuatan orang yang melakukan kesyirikan dalam tauhid Rububiyyah yang menyangka ada penaipa lain bersama Allah.

b. Seperti perbuatan kaum musyrikin terhadap berhala berhala mereka, di mana mereka menganggap berhala-berhala tersebut memiliki hak untuk diibadahi sehingga mereka menyembahnya seperti menyembah Allah

c. Seperti perbuatan orang-orang yang berlebihan dalam memuji Nabi shalallahu alaihi wasalam atau lainnya. Seperti perkataan Al Mutanabbi ketika memuji Abdullah bin Yanya Bahturi: 

Maka jadilah seperti yang engkau kehendaki, wahai yang tidak ada sesuatupun yang menyamainya.

Jadilah bagaimanapun yang engkau inginkan, karena tak ada satu makhlukpun yang menyamaimu.

2. Menyerupakan Allah dengan makhluk.

Artinya adalah, menetapkan bagi Allah dalam dzat-Nya atau sifat-Nya berupa kekhususan-kekhususan seperti yang dimiliki makhluk. Seperti ucapan seseorang bahwa tangan Allah seperti tangan para makhluk dan bersemayam-Nya
di atas Arsy-Nya seperti bersemayamnya makhluk, dan ucapan-ucapan serupa.

Konon orang yang pertama kali dikenal melakukan hal ini adalah Hisyam bin Hakam, seorang penganut sekte Rafidhah. Wallahu a'lam.

E. ILHAD

Ilhad secara bahasa berarti menyimpang. Dari segi istilah berarti menyimpang dari apa-apa yang wajib diyakini atau diamalkan. Ilhad ada 2 (dua) macam:

1. llhad dalam nama-nama Allah.

Ilhad dalam nama-nama Allah adalah menyimpang dari kebernaran mutlak dalam nama Allah. lIhad ini ada empat macam:

a. Mengingkari salah satu nama Allah atau sifat yang diisyaratkan oleh nama tersebut, seperti perbuatang pelaku ta'thil.

b. Menjadikan adanya indikasi penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya, seperti perbuatan para pelaku tasybih.

c. Menamai Allah dengan nama yang tidak pernah Allak sebut bagi diri-Nya, karena nama-nama Allah adalah masalah tauqifiyah (berdasarKan wanyu). Contohnya:  sebutan Bapa bagi Allah di Kalangan ummat Nasrani dan sebutan illah fa'ilah (sebab yang berbuat) diberikan para filosof untuk Allah.

d. Mengambil untuk nama-nama berhala dari nama-nama Allah. Seperti pengambilan Laat dari llaah dan Uzza dari Aziz.

2. Ilhad dalam ayat-ayat-Nya.

Adapun Ilhad dalam ayat-ayat Allah: terjadi pada ayat-ayat Syar'iyyah, yaitu apa yang dibawa oleh para Rasul berupa hukum-hukum dan berita-berita. Dan terjadi pula pada ayat-ayat kauniyah yaitu ciptaan Allah di langit dan di bumi.

Ilhad dalam ayat-ayat syar'iyyah adalah menyelewengkannya. Mendustakan berita-beritanya dan melanggar hukum-hukumnya.

Dan ilhad dalam ayat-ayat kauniyyah adalan menisbatkannya kepada selain Allah atau meyakini adanya sekutu atau pembantu bagi Allah di alam ini.

Ilhad dengan kedua macamnya adalah haram berdasarkan firman Allah Ta'ala dalam mengancam para pelaku ilhad:

وَذَرُوا۟ ٱلَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِىٓ أَسْمَٰٓئِهِۦ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

"...Dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. QS. Al-Araf (7): 180

Dan firman-Nya:

إِنَّ ٱلَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِىٓ ءَايَٰتِنَا لَا يَخْفَوْنَ عَلَيْنَآ ۗ أَفَمَن يُلْقَىٰ فِى ٱلنَّارِ خَيْرٌ أَم مَّن يَأْتِىٓ ءَامِنًا يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۚ ٱعْمَلُوا۟ مَا شِئْتُمْ ۖ إِنَّهُۥ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

"Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Kami, mereka tidak tersembunyi dari Kami. Maka apakah orang-orang yang dlemparkan ke dalam neraka lebih baik ataukah orang-orang yang datang dengan aman sentosa pada hari kiamat? Perbuatlah apa yang kalian kehendaki, sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kalian kerjakan." QS. Fushshilat (41): 40

Di antara ilhad ada yang merupakan kekufuran sebatas apa-apa yang menjadi konsekuensi dari nash-nash Al-Qur'an dan As-Sunnah.

--------------------
Dari Kitab Talkhis Al Hamawiyah Bab 3 Oleh Syaikh Muhammad Sholih Al Utsaimin rahimahullah.