Keutamaan Ahlul Quran

Allah telah menjadikan perumpamaan-perumpamaan yang ada di dalam Al Quran sebagai pelajaran bagi orang yang mau mentadaburinya (merenunginya). Perintah-perintah yang ada di dalamnya adalah petunjuk bagi orang yang mampu melihatnya dengan mata hati. Di dalamnya dijelaskan kewajiban-kewajiban dalam hukum syariat Islam.

Dijelaskan pula perbedaan antara yang halal dan yang haram. Nasihat, kisah, dan pemahaman disebutkan secara berulang-ulang di dalamnya. Allah mencantumkan berbagai perumpamaan dan menceritakan berita-berita yang belum terjadi. 

Allah berfirman:

 ما فَرَّطْنَا فِي الْكِتَبِ مِن شَيْءٍ 

"Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun di dalam Al Kitab." (Qs. Al An'aam [6]: 38).

Allah menjelaskannya (berita ghaib) kepada para wali dan mereka pun memahaminya. Kemudian, Dia menjelaskan maksud-maksud dari berita ghaib tersebut hingga mereka mengetahui. Di dalam bacaan Al Qur'an terdapat rahasia-rahasia Allah yang tersimpan dan penampung ilmu pengetahuan-Nya. Para wali merupakan pengganti para Rasul dan penerus cita-cita beliau. Mereka adalah keluarga, kerabat, orang-orang yang baik, dan orang-orang yang suci bersih. Rasulullah bersabda,

إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ مِنَّا، قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ هُمْ؟ قَالَ: هُمْ أَهْلُ الْقُرْآنِ أَهْلُ الله وَخَاصَتُهُ

"Sesungguhnya Allah memiliki keluarga di antara kita." Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, siapakah mereka itu?" Beliau menjawab, "Mereka adalah ahlul Qur'an (penghapal dan pembaca Al Qur`an), merekalah ahlullah (waliyullah), dan sekaligus orang kepercayaan- Nya." (HR. Ibnu Majah dalam Sunan-nya dan Abu Bakar Al Bazzar dalam Musnad-nya).1

Orang yang mengetahui kitabullah (baca: Al Qur'an) harus dapat lebih menjauhi larangan-larangan-Nya, mengingat apa yang telah dijelaskan kepadanya, takut dan bertakwa kepada Allah, terus mendekatkan diri, dan bersikap malu kepada-Nya. 

Sesungguhnya orang yang membaca kitabullah adalah orang yang membawa tugas-tugas para rasul. Dirinya akan menjadi seorang saksi pada hari kiamat terhadap orang yang menyelisihi pribadi-pribadi yang beragama. Allah Taala berfirman :

 وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ 

"Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (ummat Islam), ummat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia." (Qs. Al Baqarah [2]: 143)

Ingatlah, bahwasanya hukuman bagi orang yang mengetahui ajaran Al Qur'an namun dia melalaikannya lebih berat daripada orang yang tidak mengetahui ajaran Al Qur'an kemudian dia mengabaikannya. 

Juga, lebih berat hukumannya bagi orang yang telah dianugerahkan ilmu Al Qur'an namun dia tidak mengambil manfaat darinya, melanggar larangan-larangannya namun tidak merasa takut karenanya, dan gemar melakukan perbuatan-perbuatan dosa dan perbuatan kriminal secara terang-terangan. 

Al Qur'an akan menjadi laknat atas perbuatannya itu dan musuh baginya kelak. Rasulullah bersabda,

 القُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ

"Al Qur'an itu akan menjadi penolong bagimu atau laknat atasmu. " (HR. Muslim)2

Kewajiban bagi orang yang telah diberikan keistimewaan untuk menjaga kitab-Nya adalah membacanya dengan bacaan yang benar, mentadabburi hakikat ungkapan-ungkapannya, memahami keajaiban-keajaibannya, dan menjelaskan bahasa-bahasa yang asing padanya.

Allah berfirman, 

كِتَـٰبٌ أَنزَلْنَـٰهُ إِلَيْكَ مُبَـٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوٓا۟ ءَايَـٰتِهِۦ 

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya." (Qs. Shaad [38]: 29).

Allah berfirman

 أَفَلَا يَتَدَبِّرُونَ الْقُرْءَانَ أَمْ عَلَى قُلُوبِ أَقْفَالُهَا 

"Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur'an ataukah hati mereka terkunci ? " (Qs.Muhammad [47]:24)

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang yang memelihara Al Qur'an dengan sebaik-baiknya, orang yang mentadabburi Al Qur'an dengan cara yang terbaik, bersikap adil terhadap Al Qur'an,3 menunaikan syarat- syarat yang ada di dalamnya, dan tidak mencari petunjuk selain darinya. 

Al Qur'an telah memberikan petunjuk kepada kita dengan tanda-tanda darinya yang jelas dan hukum-hukumnya yang pasti. Dengan itu semua Al Qur'an telah menghimpunkan kebahagiaan dunia dan akhirat untuk kita. Orang yang melakukan itu semua adalah orang-orang yang bertakwa dan akan memperoleh ampunan.

Allah telah menugaskan kepada Rasul-Nya untuk memberikan penjelasan ajaran-ajaran dalam AlQur'an yang hanya dijelaskan secara global dan menafsirkan kandungannya yang sulit dipahami, serta menegaskan yang belum jelas.

Hal itu dimaksudkan agar keistimewaan yang ada padanya tampak lebih jelas dengan penyampaian dari Rasul-Nya. Allah berfirman,

 وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ 

"Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur'an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka." (Qs. An-Nahl [16]: 44)

Kemudian, setelah Rasulullah wafat Allah menugaskan kepada para ulama untuk mengambil intisari dari makna-makna yang terkandung di dalam Al Qur'an. Para ulama juga bertugas untuk memberikan petunjuk dasar-dasar kandungan Al Qur'an. Dengan kemampuan berijtihad yang mereka miliki mereka dapat mengatahui makna yang dimaksud dalam Al Qur'an.

Dengan kemampuan mereka itu mereka adalah orang-orang yang istimewa dibandingkan dengan yang lainnya. Mereka pun berhak memperoleh ganjaran pahala atas ijtihad mereka.

Allah berfirman

 مِنكُمْ وَالَّذِينَ يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا . أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَتِ 

"Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat." (Qs. Al Mujaadilah [58]: 11)

Al Qur'an menjadi sumbernya sedangkan hadits menjadi penjelasnya, dan kesimpulan hukum yang diambil oleh para ulama menjadi penegas penjelasan tersebut.

Segala puji bagi Allah yang telah membuat hati kita sadar dan mau menerima kitab-Nya, telinga-telinga kita pun terbiasa mendengar sunnah-sunnah Nabi-Nya, dan kecenderungan kita pun condong untuk mempelajari dan mencari tahu makna dan bahasa-bahasa yang asing yang ada pada keduanya (Al Qur'an dan hadits). Itu semua diniatkan untuk memperoleh keridhaan Allah, Tuhan semesta alam. Dan, secara bertahap berusaha menggapai ilmu agama.

Mudah mudahan usaha saya ini dapat menjadi amal shaleh setelah saya wafat kelak, Allah taala berfirman, 

يُنَبَّؤُا۟ ٱلْإِنسَـٰنُ يَوْمَئِذٍۭ بِمَا قَدَّمَ وَأَخَّرَ

Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya.
Al-Qiyamah:13

عَلِمَتْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ وَأَخَّرَتْ

(maka) setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikan(nya).
Al-Infitar:5

Rosulullah shalallahu alahi wasalam bersabda : 

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Apabila salah seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah segala amalannya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfa'at baginya dan anak shalih yang selalu mendoakannya.
HR. Muslim 1631

Waallahu 'alam
(sumber : pengantar tafsir al Qurthubi)

-----------------------------------------------------

1. HR. Ibnu Majah dari Anas dalam Al Muqaddimah 1/78, no. 215, bab: fadhilah orang yang belajar Al Qur'an dan mengajarkannya, yaitu dengan lafazh:

إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ مِنَ النَّاسِ.

"Sesungguhnya Allah memiliki orang kepercayaan dari golongan manusia."

Al Hakim juga meriwayatkannya dalam kitab Al Mustadrak 1/556, Ahmad dalam kitab Musnad-nya 3/127, 128, 242. Dan, hadits dalam kitab Al Jami' Ash-Shaghir no. 2161. Al Albani menganggapnya shahih. Diriwayatkan pula oleh Abu Daud Ath-Thayalisi no. 2134, Al Bazzar dalam Musnad-nya, dan Abu Nu'aim dalam kitab Al Hilyah, 3/63 dan 9/ 40.

2. HR. Muslim pada pembahasan tentang Thaharah, bab: Fadhilah Wudhu, 1/23 no. 223. Ahmad dalamMusnad-nya 5/343.)

3. lihat Kitab lisan Al Arab 4/2326