Guru kami berkata ( Ustadz Yudi Cahyudi Prima hafidzahullahu ta'ala ) :
Penentu Keberhasilan seseorang dalam menuntut ilmu bukanlah kecerdasannya, tetapi sebesar apa pengagungannya terhadap ilmu dan orang yang berilmu.
Baca saja bagaimana perjalanan para ulama dari para sahabat dan yang mengikutinya, anda akan melihat sebesar apa pengagungan mereka terhadap ilmu dan orang yang berilmu.
Karena itu dikatakan 'Sesungguhnya hanya dengan adab ilmu itu bisa dipahami'
Hal ini menunjukan bahwa keberhasilan seseorang dalam menuntut ilmu tidak semata-mata ditentukan oleh kecerdasan, tetapi lebih pada sikap hormat dan pengagungan terhadap ilmu serta orang yang menyampaikannya (guru atau ulama). Ini berarti bahwa kecintaan dan penghargaan terhadap ilmu memiliki peran yang sangat penting dalam proses pembelajaran.
Dan juga mengajak kita untuk melihat contoh dari perjalanan para ulama, sahabat, dan generasi setelahnya, yang menunjukkan bagaimana mereka begitu menghormati ilmu dan orang yang berilmu. Sikap penghormatan ini bukan hanya diwujudkan dalam bentuk penghargaan, tetapi juga dalam adab atau etika dalam menuntut ilmu.
Adab di sini mencakup sikap rendah hati, kesabaran, rasa hormat, serta kesungguhan dalam memahami dan mengamalkan ilmu.
Itulah sebabnya ungkapan "sesungguhnya hanya dengan adab ilmu itu bisa dipahami." Artinya, tanpa adab yang baik, ilmu yang dipelajari tidak akan bisa dicerna dengan benar, meskipun seseorang memiliki kecerdasan yang tinggi. Adab adalah kunci untuk membuka pintu pemahaman yang lebih mendalam terhadap ilmu.
Beberapa ulama terdahulu memang menekankan pentingnya adab dalam memperoleh keberkahan dan pemahaman yang mendalam tentang ilmu.
Beberapa ulama yang dikenal sangat menekankan pentingnya adab dalam menuntut ilmu di antaranya adalah :
1. Imam Malik rahimahullah pernah berkata kepada seorang pemuda Quraisy,
"Pelajarilah adab sebelum kalian belajar ilmu."
Beliau menekankan bahwa adab adalah fondasi dalam menuntut ilmu. Jika seseorang tidak memiliki adab, ilmu yang didapatkannya tidak akan bermanfaat secara sempurna.
Imam Malik rahimahullah juga pernah berkata, “Dulu ibuku menyuruhku untuk duduk bermajelis dengan Robi’ah Ibnu Abi ‘Abdirrahman -seorang fakih di kota Madinah di masanya-. Ibuku berkata,
“Pelajarilah adab darinya sebelum mengambil ilmunya.”
Dalam Siyar A’lamin Nubala’ karya Adz Dzahabi rahimahullah disebutkan bahwa ‘Abdullah bin Wahab rahimahullah berkata,
“Yang kami nukil dari (Imam) Malik lebih banyak dalam hal adab dibanding ilmunya.”
2. Imam Syafi’i rahimahullah Dalam banyak nasihatnya, beliau menyampaikan bahwa murid harus memiliki adab terhadap gurunya dan ilmu itu sendiri. Dalam ungkapannya yang terkenal, "Barangsiapa yang tidak menjaga dirinya, maka ilmunya tidak akan bermanfaat baginya." Ini juga menunjukkan pentingnya adab dalam memahami ilmu.
3. Ibnu al-Mubarak rahimahullah mengatakan, "Kami lebih membutuhkan sedikit adab daripada banyaknya ilmu."
Ini menunjukkan bahwa adab dianggap sebagai hal yang mendasar, bahkan lebih penting daripada kuantitas ilmu yang didapatkan.
Dan Ibnu al-Mubarak rahimahullah juga mengatakan “Kami mempelajari masalah adab itu selama 30 tahun sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun.”
Makhlad bin Al Husain rahimahullah berkata pada Ibnul Mubarok,
“Kami lebih butuh dalam mempelajari adab daripada banyak menguasai hadits.”
Ini yang terjadi di zaman beliau, tentu di zaman kita ini adab dan akhlak seharusnya lebih serius dipelajari.
Demikianlah pandangan ulama tentang pentingnya adab dalam menuntut ilmu. Mereka sepakat bahwa keberhasilan dalam belajar lebih terkait dengan sikap dan penghormatan terhadap ilmu serta pengajarnya daripada sekadar kecerdasan.
Jadi, pelajaran penting dalam hal ini adalah pentingnya memiliki sikap yang baik, rasa hormat, dan adab terhadap ilmu dan orang yang berilmu untuk mencapai keberhasilan dalam menuntut ilmu.
Cibarusah, 23 September 2024
@miftah.cbr.id
wallahu 'alam.
----------------------------
Rujukan :
1. Adab terhadap Guru
2. Adab dulu Baru Ilmu
keduanya ditulis oleh Ustadz Muhammad Abduh Tausikal hafidzahullahu ta'ala.